Google

Looped Slider

Hidayat Nur Wahid - Tokoh Perubahan Republika 2005

Rabu, 21 Maret 2012


Pelopor Hidup Bersih dan Jujur

Kehausan masyarakat akan hadirnya tokoh yang bersih dan bersahaja itu akhirnya terpenuhi. Tampilnya Hidayat Nur Wahid sebagai ketua MPR pada 13 Oktober 2004 lalu, bak oase yang menghapus rasa dahaga masyarakat. Betapa tidak, hanya lima hari setelah menjabat ketua MPR, mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu langsung menggagas kesepakatan yang layak menjadi teladan bagi pejabat tinggi lainnya. Bersama pimpinan MPR lainnya, Hidayat menolak mobil dinas Volvo yang dianggap sebagai lambang kemewahan.

Tak hanya itu. Pimpinan MPR juga menolak tinggal di kamar mewah Hotel Mulia Jakarta --dengan tarif sekitar Rp 5 juta per malam-- selama sidang MPR 18-20 Oktober 2004. Mereka akhirnya ditempatkan di kamar standar dengan tarif Rp 1,5 juta per malam. Hidayat bahkan sempat menginap di kantornya ketika jadwal sidang amat padat.

Dibanding pejabat tinggi lain, kekayaan Hidayat jauh di bawahnya. Saat awal menjabat ketua MPR, total harta kekayaan Hidayat sekitar Rp 233,269 juta dan 15.000 dolar AS. Jumlah yang boleh dibilang 'sangat sedikit' dibanding pejabat tinggi lainnya. a juga meninggalkan posisinya sebagai presiden partai, begitu terpilih sebagai ketua MPR. Suatu contoh baru dalam alam politik di tanah air. "Saya kira, perangkapan jabatan itu juga merupakan penyalahgunaan jabatan," kilahnya.

Cerita seputar kesahajaan dan keteladanan pria kelahiran Klaten, Jateng, 8 April 1960 itu masih berlanjut. Ayah empat anak dari pernikahannya dengan Kastrian Indriawati tersebut sempat menolak uang dinas untuk tiga hari kerja ke Makassar karena faktanya dia hanya sehari berada di sana. Jika ada undangan dari partainya untuk berkunjung ke daerah, Hidayat selalu menolak beragam fasilitas --termasuk kamar hotel mewah-- dari pemda setempat.

Suatu saat, Hidayat pernah marah terhadap kader PKS di Padang. Kala itu, Hidayat hadir di sana atas undangan partainya. Dia merasa aneh ketika ditempatkan di kamar mewah Hotel Bumi Minang. Setelah dijelaskan, bahwa biaya hotel ditanggung pemda setempat, Hidayat tak mau. Dia bersikeras membayar sewa kamar sendiri dan tak hendak membebani pemda.

Kunjungan ke daerah atas nama partai pun selalu menggunakan kursi pesawat kelas ekonomi, sesuai kemampuan pihak yang mengundang. Dia tak akan bergeser dari tempat duduk, sekalipun pramugari menyilakannya berpindah ke kelas bisnis atau eksekutif.

Lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo itu memang selalu memberi contoh konkret. Saat badai tsunami menerjang Nanggroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004, dia ikut turun langsung ke lokasi musibah. Bukan sekadar meninjau, Hidayat ikut membantu untuk mengangkat mayat-mayat yang berserakan. Bersama kader partainya, ia pun melakukan shalat jenazah di lokasi terjadinya musibah.

Hidayat yang lulus S1, S2, dan S3 dari Universitas Islam Madinah, Arab Saudi itu lahir dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya adalah seorang guru. Karena itu, jiwa pendidik yang senantiasa memberi contoh akan selalu dipegangnya. "Anda tak mungkin menuntut komitmen orang lain kalau Anda sendiri tak memiliki komitmen," tutur anak dari Muhammad Syukri dan Siti Rahayu tersebut.

Dia pun berpendapat, asal ada komitmen kuat dari para pengambil keputusan, maka tak terlalu sulit untuk melawan korupsi. Menurut dia, korupsi hampir selalu terkait dengan kekuasaan. "Sedangkan kekuasaan itu ada di tangan pengambil keputusan. Ini ibarat mata air. Kalau mata airnya jernih, maka aliran air yang ke bawah juga akan ikut jernih," paparnya.

Sikap empatik, tak bermewah-mewah, dan hidup secukupnya (efisien) menjadi prinsip moral yang dipegangnya. "Saya sejak dulu punya prinsip qana'ah (merasa cukup dengan apa yang ada)," jelasnya. Prinsip ini dianggapnya sebagai cara ampuh menghindari godaan korupsi.

Dua hal yang ditakuti penggemar bulu tangkis itu adalah jika tak mampu menjaga istikamah (konsistensi) maupun memegang amanah (kepercayaan). Baginya, orang yang tak konsisten tidak akan mungkin mampu menjalankan tanggung jawab dengan baik. Di mata pengamat hukum perbankan Pradjoto, Hidayat dianggap tokoh yang luar biasa. "Semoga komitmennya bisa menular pada tokoh lainnya," kata Pradjoto ketika itu.

Sedangkan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan, Anwar Nasution, merasa amat terkesan terhadap sikap Hidayat. "Gerakan moralnya untuk memberantas korupsi dengan pola hidup sederhana perlu dijadikan contoh," paparnya beberapa waktu lalu.

Di saat kondisi bangsa masih carut-marut seperti ini, 'virus' yang dibawa oleh Hidayat amatlah diperlukan. Apalagi, 'virus hidup bersih' itu dihembuskan oleh seorang petinggi negara. Tentu saja gaungnya diharapkan bisa menggema ke seluruh penjuru negeri agar makin banyak melahirkan Hidayat-Hidayat yang lain.

Sumber : http://www.republika.co.id/tokoh-perubahan/landingpage/2005.php

Read Post | komentar

PKS: Hidayat-Didik Kombinasi Terbaik untuk Pimpin Jakarta

Selasa, 20 Maret 2012


Jakarta Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini disebut sebagai kombinasi yang terbaik untuk memimpin Jakarta. Meski pasangan ini bukan asli Jakarta dan keduanya berasal dari etnis Jawa, PKS tetap yakin akan menang dalam Pilkada kali ini.

"Ini berubah pada menit terakhir konstelasinya sehingga PKS memutuskan mengajukan pasangan calon kuat ini. Pendidikan mereka Timur dan Barat, ini kombinasi kepemimpinan yang bagus untuk DKI Jakarta," ujar Sekjen PKS Anis Matta di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (21/3/2012).

Anis tidak khawatir keduanya yang berasal dari etnis Jawa tidak mendapat dukungan dari warga Jakarta. Menurutnya, warga Jakarta tidak akan melihat etnis cagub-cawagub, melainkan siapa yang bisa menyelesaikan permasalahan Jakarta saat ini.

"Kalau kita lihat komposisi etnis Jakarta. 36 persen Jawa, Sunda, Betawi dan Batak dan kita lihat sifatnya floating dan swing. Karena persoalan Jakarta terlalu riil siapa yang bisa atasi masalah banjir itu yang mereka pilih," terang Wakil Ketua DPR ini.

Anis mengatakan tidak ada masalah dengan Didik J Rachbini yang berasal dari PAN.

"Hubungan pada Pak Didik memang lebih personal sifatnya, tapi DPP PAN mendukung beliau maju," tutupnya.

(trq/gun)

Read Post | komentar

Pengamat : HNW-DJR Akan Melaju Putaran 2 Pilkada DKI


HNW-Didik J Rachbini 
“Pasangan Ideal : Negarawan – Teknokrat”


Partai Keadilan Sejahtera (PKS) secara resmi mengajukan Pasangan Calon Gubernur DKI Jakarta Hidayat Nur Wahid (HNW) dengan Prof. Didik J. Rachbini (DJR) dengan menyerahkan berkas pendaftaran ke KPUD Jakarta (Senin malam 19/3).

Hidayat Nur Wahid bertekad untuk menghentikan segala keluh kesah warga Jakarta selama ini atas kondisi lingkungannya.

"Saya warga Jakarta, saya rasakan duka lara, suka duka nestapa dari warga Jakarta," ujar HNW di kantor DPP PKS, Jakarta, Senin 19 Maret 2012.

Hidayat Nur Wahid menegaskan bahwa dirinya tidak ingin melanjutkan beragam kondisi itu di Jakarta.

"Jakarta adalah ibukota Indonesia. Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara, sangat layak ibukota menjadi berkelas dan terhormat di mata negara-negara lainnya," jelas Hidayat Nur Wahid.

Karena itu, Hidayat Nur Wahid berharap pilkada Jakarta nanti bisa berjalan dengan baik, tanpa ada manipulasi maupun praktek politik uang.

"Demokratis, bermartabat, jangan ada kekerasan, manipulasi, money politic yang akan menghasilkan pemimpin yang kotor," tegas Hidayat.

Hidayat Nur Wahid sudah dikenal publik luas sebagai tokoh negarawan yang bersih, santun, low profile, sederhana dan berintegritas yang mengedepankan moralitas dan kemaslahatan masyarakat luas.

Popularitas dan elektabilitas HNW tidak diragukan lagi. Pada Pemilu 2004 Hidayat Nur Wahid menjadi aleg dapil DKI II yang perolehan suaranya terbesar secara nasional melebihi BPP (Bilangan Pembagi Pemilih), yaitu 262.019 suara.

Sedang pasangan HNW, Prof. Didik J. Rachbini, dikenal sosok profesional yang memiliki kapasitas dalam bidang ekonomi, membuat Didik dinilai PKS tepat mengisi posisi calon wakil gubernur.

"Pemikiran Mas Didik diperlukan untuk pengentasan kemiskinan dan penataan kota," kata Ketua DPP PAN, Bima Arya tentang alasan PKS melamar Didik.

Dengan menggandengkan sosok negarawan dan sosok ekonom teknokrat profesional PKS membuktikan keseriusan untuk memberi yang terbaik bagi warga DKI Jakarta yang sudah bosan dengan berbagai permasalahan dan kondisi yang ada sekarang.

"Kita di PKS yang penting bukan cuma elektabilitas atau popularitas tetapi bagaimana kapasitas mampu menyelesaikan masalah Jakarta yang menjadi cermin bangsa ini. Jadi pasangan ini kita coba pastikan mampu mendeliver janjinya untuk membuat Jakarta menjadi etalase dari Indonesia," ungkap jubir DPP PKS Mardani Ali Sera.

Bagaimana peluang pasangan HNW-Didik J. Rachbini?

Koran Tempo, Selasa (20/3/12)
Dengan adanya 6 (enam) pasangan cagub-cawagub dan aturan khusus di Pilkada DKI dimana pemenangnya harus mendapat suara 50% plus 1 maka diprediksi Pilkada DKI tak mungkin selesai satu putaran.

Beberapa pengamat memprediksi, dari enam pasangan cagub-cawagub Pilkada DKI Jakarta, pasangan Hidayat Nur Wahid- Didik J. Rachbini diperkirakan akan melaju ke putaran 2. Ada yang memperkirakan final putaran 2 adalah HNW vs Jokowi, pengamat yang lain prediksi kans terkuat adalah HNW vs Fauzi Bowo.

Salah satu pengamat politik mengatakan bahwa sosok yang akan mampu memenangkan DKI 1 (berhadapan dengan incumbent) adalah tokoh dengan kapasitas integritas-kapasitas-dan kredibilitas yang melampaui stigma negatif yang telah dikenakan pada partai dan politisi hari ini. Karena sosok yang sedemikian lah yang mampu mengalahkan dashyatnya kekuatan politik uang.

Dengan mlihat figur Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini perpaduan Negarawan-Teknokrat ditambah dengan kekuatan mesin politik PKS yang prima Insya’Allah memudahkan voters Jakarta sebagai publik yang paling well inform dan rasional di republik ini mengantarkan beliau berdua menjadi pemenang dalam pilkada DKI.


Kalau berkunjung ke daerah Tretes, bawalah seikat melati. 
Kalau kepengen Jakarta beres, serahkan saja Hidayat-Rachbini
-Tifatul Sembiring-

Read Post | komentar

Wow, Mayoritas Pembaca detik.com Pilih Pasangan HNW - Didik J Rachbini

Situs berita detik.com melakukan POLING Pilkada DKI Jakarta dengan pertanyaan:


Pasangan mana di bawah ini yang akan Anda pilih sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta?

  • Fauzi Bowo (Foke) - Nachrowi Ramli
  • Alex Noerdin - Nono Sampono
  • Faisal Basri - Biem Benyamin
  • Joko Widodo - Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)
  • Hidayat Nurwahid - Didik J Rachbini
  • Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria




Dan hasilnya sampai hari Rabu (21/3/12) pukul 07.32 WIB menunjukan bahwa mayoritas pembaca detik.com memilih pasangan Hidayat Nurwahid - Didik J Rachbini dengan perolehan 50,68 % diurutan PERTAMA, disusul pasangan Joko Widodo - Basuki Cahya Purnama (Ahok) di posisi ke-2 dengan 34,11 %.

Hasil lengkap poling seperti terlihat pada tabel di bawah ini:



Bagi anda yang akan berpartisipasi di POLING detik.com ini caranya sebagai berikut:

(1) masuk ke http://news.detik.com/
(2) liat ke bagian bawah cari kolom POLING
(3) pilih HNW-DJR lalu klik SUBMIT
(4) muncul Tabel --> klik tombol POLL dibawah tabel
(5) selesai

CATATAN:
Poling ini berlaku peraturan 1 IP = 1 Vote
Artinya 1 pembaca (IP) hanya memilih SEKALI, TIDAK MEMILIH BERKALI-KALI
Sehingga hasil Poling sangat FAIR mencerminkan pilihan pembaca/pengunjung detik.com


___________ 
*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia
Read Post | komentar

Tifatul: Hidayat-Didik Berpeluang Besar

Liputan6.com, Jakarta: Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Tifatul Sembiring, optimis dengan majunya calon gubernur DKI Jakarta Hidayat Nurwahid bersama kader Partai Amanat Nasional (PAN) dan ekonom, Didik J. Rachbini. Mereka berpeluang besar untuk merebut singgasana DKI1.

"Insya Allah, karena tahun 2007 kan 21 partai, tidak ada yang mau berkoalisi dengan PKS satu pun. Sekarang terserak-serak, sekarang peluangnya Insya Allah akan besar untuk Hidayat dan Rachbini," ujar Menkominfo itu di KPUD DKI Jakarta, Senin (19/3).

Tifatul membantah jika pencalonan pasangan Hidayat-Didik terkesan mendadak. Menurutnya, ini semua sudah dirancang dengan baik sebelumnya. "Nggak tiba-tiba, segala kemungkinan sudah kita persiapkan. Adanya satu bisa saja terjadi kejadian, kita sudah siapkan. Setiap kader PKS itu prinsipnya kami ini anak panah dari anak-anak panah Allah, kami siap dilontarkan kemana saja."

Soal pemilihan Hidayat ketimbang Bang Sani yang sudah lebih dulu mendapat dukungan PKS, bagi Tifatul juga hal yang biasa. Yang jelas, lanjut Tifatul, ini bagian strategi partainya untuk menghadapi lawan-lawanya, karena PKS tidak ingin pengalaman pemilu 2007 terulang kembali.

"Jadi begitu Pak Sani, kan tadi disiapkan sebagai cawagub itu ditarik lagi biasa saja bagi PKS. Untuk menghadapi lawan-lawan yang lebih hebat, makannya kita masukan nama Pak Hidayat. Jadi kita putuskan berkoalisi dengan kader partai lain yaitu Didik J Rachbini," jelasnya.(MEL)

Read Post | komentar


VIVAnews – Partai Keadilan Sejahtera secara mengejutkan memasangkan mantan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid dengan Didik Junaedi Rachbini untuk maju dalam pertarungan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang akan dihelat 11 Juli 2012.

Nama Hidayat Nur Wahid memang cukup menjamin dari segi popularitas. Mantan Presiden PKS ini bahkan sempat diperhitungkan menjadi calon presiden pada Pemilu 2009 lalu. Namun siapa gerangan Didik Rachbini yang mendampinginya di Pilgub DKI 2012 ini?

Didik adalah politisi Partai Amanat Nasional yang pernah duduk sebagai anggota DPR periode 2004-2009 lalu. Ia lebih dikenal sebagai akademisi, pengajar, sekaligus ekonom yang banyak menghasilkan buku, makalah, dan artikel. Tulisannya kerap ditemui di berbagai media massa.

Seperti dikutip dari situs resmi Universitas Indonesia, ui.ac.id, Prof. Dr. Didik Junaedi Rachbini lahir di Pamekasan, Madura, pada tanggal 2 September 1960. Ia menempuh pendidikan sarjana bidang ekonomi pertanian dan manajemen agribisnis di Institut Pertanian Bogor.

Ia kemudian memperoleh gelar Master of Sience dan Doctor of Philosophy di Institute of Graduate Studies, Central Luzon State University, Filipina, di mana ia menempuh bidang Studi Pembangunan Kawasan dan Pedesaan. Pendididikan non-gelar lainnya adalah kursus Summer di bidang ekonomi pada University of the Philippines di Los Banos, kursus ekonomi budaya di Boston University, dan kursus kepemimpinan di Islamic University, Islamabad.

Kini Didik adalah dosen di Universitas Indonesia. Selain mengajar di UI, ia juga mengajar di program Pasca Sarjana Universitas Mercu Buana dan Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI. Selain punya sepak terjang di dunia akademis, pengalaman kepemimpinan Didik di lembaga pemerintahan maupun non-pemerintahan cukup banyak.

Ia tercatat sebagai Direktur sekaligus pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF). Sementara karir Didik di kancah politik dimulai sebagai anggota MPR periode 1998-1999. Ia kemudian masuk Tim Ahli MPR untuk Amandemen UUD 1945 bidang ekonomi 1999-2004.

Tahun 2004, Didik terpilih sebagai anggota DPR hingga tahun 2009. Ia menjadi Ketua Komisi VI DPR Bidang Industri, Perdagangan, BUMN, dan Penanaman Modal, pada tahun 2005-2007. Selanjutnya ia menjadi Wakil Ketua Komisi X DPR Bidang Pendidikan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga.

Lepas dari DPR, kesibukan Didik tak juga berkurang. Dia menjabat sebagai Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan Ekonomi di Kamar Dagang dan Industri (KADIN) mulai tahun 2011 sampai saat ini.

Maju ke Pilgub DKI bersama Hidayat, bukan berarti Didik mendapat dukungan resmi dari Partai Amanat Nasional yang menaunginya. PAN sendiri secara resmi mendukung pasangan calon Partai Demokrat, Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli. Namun mereka tidak akan memberikan sanksi apapun kepada Didik yang digaet PKS sebagai seorang profesional.

“Ketua Umum PAN Hatta Rajasa menginstruksikan untuk mengusung Foke. Tapi kami tidak akan menghalang-halangi Mas Didik,” kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat PAN Bidang Politik, Bima Arya Sugiarto. (eh)
• Sumber : VIVAnews 

Read Post | komentar

Sketsa Biografi Hidayat Nur Wahid (4)

“Kalau basis organisasi bersifat elitis-eksklusif, maka basis sosial bersifat massif dan terbuka. Kalau basis organisasi berorientasi pada kualitas, maka basis sosial berorientasi kuantitas. Kalau organisasi meretas jalan, maka masyarakatlah yang akan melaluinya. Kalau para pemimpin melihat ke depan dengan pikiran-pikirannya yang jauh, maka massa menjangkau ke depan dengan tangan-tangannya yang banyak. Kalau pemimpin yang hebat mendapatkan dukungan publik yang luas, maka akan terbentuklah sebuah kekuatan dakwah yang dahsyat…begitulah menciptakan sinergi antara kualitas dengan kuantitas, keduanya mempunyai peran yang sama srategisnya.”
 Keharusan melebarkan “sayap” pada segmentasi yang lebih luas ini pun disadari oleh Hidayat Nur Wahid. Dalam sambutannya setelah terpilih sebagai Presiden Partai Keadilan, Hidayat menyatakan bahwa jabatan itu sejatinya merupakan amanah yang tidak ringan. Hidayat Nur Wahid kemudian merinci tantangan-tantangan yang akan dihadapi partainya tersebut,
 Pertama, masalah pencitraan partai yang sebagaimana diulas diatas, masih terbatas pada segmen tertentu. Menurut Hidayat, Meskipun citra ini positif karena memperjelas segmentasi pendukung, namun dalam konteks dakwah hal ini menjadi tidak tepat karena dasar dakwah adalah seruan pada seluruh segmen masyarakat apapun kondisinya. Menurut Hidayat, pencitraan tadi akan menghambat pelebaran dakwah karena nilai-nilai dakwah Partai Keadilan akan terkungkung pada segmen-segmen yang terbatas.
 Kedua, faktor konsolidasi internal. Konsolidasi internal harus terus mengalami penguatan meskipun dalam tubuh PK sudah cukup solid.
 Ketiga, adalah faktor komunikasi dan sosialisasi massa. Hidayat Nur Wahid berpandangan bahwa untuk meyakinkan masyarakat bahwa Partai Keadilan tidak mengalami stagnasi setelah ditinggal oleh Nur Mahmudi, maka jalinan komunikasi dengan media massa dan kalangan yang memiliki akses massa harus lebih mengalami peningkatan. Hidayat Nur Wahid paham bahwa peran media massa sangat besar dalam pembentukan opini yang menentukan aspirasi politik publik.
 Keempat, Partai Keadilan harus dapat memenuhi pandangan masyarakat yang menuntut bahwa Partai Keadilan haruslah menjadi partai besar. Sehingga pengkaderan harus dilakukan secara massif dan terus menerus dengan target dominannya nilai-nilai dakwah di masyarakat.
 Kelima, adalah masalah finansial, bagaimanapun Hidayat memahami bahwa kegiatan partai adalah kegiatan yang bersifat massal dan harus terprogram secara professional, sehingga diperlukan adanya terobosan agar kebutuhan finansial partai dapat terpenuhi secara mandiri.
 Pada tahun 2003, Hidayat Nur Wahid kemudian memimpin Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sebetulnya merupakan metamorfosa dari Partai Keadilan. Di bawah kepemimpinannya, meskipun ini bukan merupakan satu-satunya faktor, Partai Keadilan Sejahtera berhasil melipatgandakan suaranya pada Pemilu 2004 sebesar 600%. Partai Keadilan yang pada Pemilu 1999 hanya memperoleh 1,4% suara nasional, meraih 7,34% pada pemilu 2004. Untuk partai yang baru dideklarasikan pada tahun 2003, perolehan tersebut merupakan sebuah prestasi yang menurut Saiful Mujani,[14] amat mengesankan. PKS bahkan mampu mengalahkan Partai Amanat Nasional, partai yang lebih awal berdiri, dan dipimpin pula oleh tokoh nasional sekelas Amien Rais.
 Lompatan suara PKS itulah yang akhirnya mengantarkan Hidayat Nur Wahid menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat setelah mengalahkan Sucipto dengan selisih hanya dua suara dalam pemilihan yang berlangsung secara demokratis dalam Sidang Paripurna V MPR tanggal 6 Oktober 2004. Setelah memimpin MPR itulah nama Hidayat Nur Wahid dikenal luas sebagai tokoh yang sederhana dan sebagai ikon anti KKN.
 Menurut Azyumardi Azra fenomena kemunculan Hidayat Nur Wahid dan semua kiprah PKS diatas merupakan proses dari apa yang ia sebut sebagai mainstreaming of Islamic politics, pengarusutamaan politik Islam, sebagaimana dipahami dan ditampilkan PKS.
 Dalam pengarusutamaan ini Hidayat Nur Wahid semakin ke tengah. Ia tidak lagi terpingir dan terpencil dari hiruk pikuk politik yang berlangsung. Sebaliknya, ia menjadi aktor dan pelaku yang cukup menentukan.
 Hidayat Nur Wahid memang tidak menghasilkan banyak karya tulis, namun aktivitas sosial dan terutama politiknya yang mencerminkan ketinggian moral, telah menuai banyak simpati dan pujian.

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2011/03/11469/sketsa-biografi-hidayat-nur-wahid/
Read Post | komentar

logo

Catwidget3

REDAKSI

KABAR PKS PIYUNGAN

SERBA-SERBI PKS

Headline

 

Themes Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com
Copyright © 2011 NURANI (Hidayat Rachbini) - All Rights Reserved